Muhammad Ridha, wakil rakyat termuda dalam sejarah Kota Bukittinggi,- Ditakdirkan
lahir pada
keluarga yang aktif di bidang politik. Pada usia 26 tahun, Muhammad Ridha di
lantik menjadi anggota DPRD Kota Bukittinggi periode 2009-2014, dan menjadi
satu-satu nya anggota dewan “termuda” dalam sejarah Kota Bukittinggi. Tidak
mudah memang, menjadi wakil rakyat di usia muda tentu tak semudah yang dikira.
Ada yang selalu memandang remeh namun banyak yang mendorong maju. Namun bagi Muhammad Ridha, hal itu merupakan
sebuah tantangan yang harus di lalui oleh seorang politisi.
Sang Ayah, H. Zainal Djis Dt. Sati SH
(alm), menjadi mentor utama dalam perjalanan politik Muhammad Ridha. Meski demikian,
Muhammad Ridha tidak memaksakan diri untuk menggandeng popularitas Sang Ayah. Maklum, Buya Zainal adalah seorang
tokoh ulama, tokoh politik, tokoh adat dan tokoh masyarakat. Bahkan hingga saat
ini, masih ada yang tidak mengetahui bahwa Muhammad Ridha adalah anak dari Buya
Zainal. Jutru hal ini lah yang
menjadikan Muhammad Ridha lebih unik dari politisi lain
Anak muda yang tinggal di Simpang Mandiangin, Mandiangin Koto Selayan Bukittinggi itu, aktif
berkiprah di bidang politik praktis sejak tahun 2006. Memulai karir politiknya
di Barisan Muda Partai Amanat Nasional (BM PAN) Bukittinggi. Dengan
memangku jabatan Ketua Umum, Muhammad Ridha menjadi bagian utama perjuangan partai. PAN yang pada waktu itu di
huni oleh banyak politisi muda, tentu memberikan suasana persaingan yang
sedikit panas.
Sebagai anggota dewan termuda M Ridha pernah diundang ketika pertemuan politisi pemuda parlemen se Indonesia 3-4 Nov 2010 lalu di Jakarta dan juga dihadiri oleh presiden Republik Indonesia. Pengalaman paling berharga dan sebuah kebanggaan itu, terus menjadi motivasinya untuk terus berkarir.
Diluar
aktivitasnya sebagai politisi, Muhammad Ridha aktif di berbagai organisasi
sosial dan masyarakat. Saat ini Ia menjabat sebagai Wakil Ketua di Pemuda
Muhammadiyah, dan menjadi Wakil Ketua di
Persatuan Sepakola Seluruh Indonesia Bukittinggi ( PSSI ), juga Wakil Ketua di
PERBASI(Persatuan Bola Basket Indonesia) Bukittinggi dan Wakil Sekretaris di
PASI Bukittinggi.
Pada 17
Agustus 2013 lalu, Muhammad Ridha yang juga sebagai Ketua PURNA PASKIBRAKA
INDONESIA (PPI) Bukittinggi, berhasil mengirim siswa SMU Bukittinggi untuk
mejadi utusan ke Istana Negara sebagai pengibar bendera Negara dan sukses menjebolkan
salah seorang anggotanya pada Bimtek Protokoler Istana Negara. Dan sekaligus
utusan dari Bukittinggi tesebut menjadi satu-satunya perwakilan dari Sumatera
Barat. Hal ini tentu sangat
mengejutkan, mengingat sudah 10 tahun
Bukittinggi belum pernah mengirimkan utusan ke Istana Negara untuk menjadi
Pasukan Pengibar Bendera. Khusus Bimtek Protokoler Istana Negara, merupakan
sebuah prestasi yang tidak mudah diraih selain menjadi pengibar bendera di
Istana Negara.
Antara Buku dan
bantal
Terlepas
dari kehidupan politik dan kehidupan muda dari seorang Muhammad Ridha, terdapat
sebuah titik positif yang membuatnya berbeda dari politisi lain. Muhammad Ridha selalu di temani sebuah “buku”
sebelum tidur. Kebiasan membaca ini
sudah menjadi ciri khas keluarga Buya Zainal (alm). Siapa saja yang pernah
menghampiri kediaman Muhammad Ridha, pasti akan menemukan ribuan buku
peninggalan “Buya Zainal”.
Lapar
akan ilmu pengetahuan akan membuat
seorang manusia lebih maju dari hari ke hari. Dan ilmu pengetahuan itu tidak
akan didapat “tanpa membaca”. Bahkan
Einsten yang di anggap orang paling cerdas didunia, di keluarkan dari sekolah
karena “terlalu rajin membaca”. Filosofi ini melekat dalam diri Muhammad Ridha,
karena membaca itu membantunya untuk lebih berkualitas sebagai wakil rakyat. Bahkan,
sambil bercanda Muhammad Ridha pernah
mengatakan “sangat berbahaya jika penjahat suka membaca”.
Sebenarnya,
membaca adalah kebutuhan wajib para politisi. Dari cara berbicara saja, para
politisi itu bisa di ukur mana yang berkualitas dan mana yang tidak
berkualitas. Dan beruntunglah mereka (politisi) yang gemar membaca, setiap
perkataan akan memberikan gambaran tajam bagi orang yang mendengar, memberikan
inspirasi dan solusi terhadap suatu masalah. Nah, bayangkan jika calon wakil
rakyat tidak bisa bicara? Lalu suara apa yang akan disampaikannya di gedung
parlemen? Bukankah wakil rakyat adalah penyalur suara rakyat?
Muhammad Ridha meyakini arti penting
politisi muda seperti dirinya. Keberadaan politisi muda dalam system politik
merupakan wajah masa depan Kota Bukittinggi, mustahil jika masa depan Kota
Bukittinggi sepenuhnya hanya diserahkan pada golongan tua, politisi muda adalah
“tunas politik” perbaikan masa depan Kota kearah yang lebih baik. “Keberadaan politisi muda, di satu sisi di pandang sebagai sebuah
tantangan. Namun di sisi lain sekaligus diakui sebagai sebuah potensi untuk
menjadi pemimpin Indonesia di masa depan,” terangnya.
“Bertarung
Untuk Menang”
Salah satu media local pernah menanyakan kepada
Muhammad Ridha, “jika anda kalah dalam pemilu Legislatif 2014 ini, apa rencana
anda selanjutnya?”, sebuah pertanyaan tajam tersebut dijawab dengan tegas oleh
Muhammad Ridha, “tidak ada scenario kalah, yang ada saya tidak dapat kursi di
DPRD Kota Bukittinggi, saya masih tetap berusaha menang diluar sebagai anggota
DPRD, masih banyak saluran lain untuk saya berbuat bagi masyarakat Kota
Bukittinggi”.
Pada pemilu legislative tahun 2014
ini, Muhammad Ridha kembali bertarung mendapatkan kursi di DPRD Kota
Bukittinggi. Niat ini tidak lebih untuk tetap mempertahankan keberadaan “tunas
politik” bagi masa depan Kota Bukittinggi. Tidak hanya sekedar mendapatkan
kursi, tapi mampu memberikan pandangan-pandangan inovatif bagi perkembangan
Kota Bukittinggi, tidak hanya sekedar berkata “iya, setuju, tidak, tolak”.
Maka bukanlah suatu kesalahan jika
kita masyarakat Kota Bukittinggi khususnya yang berdomisili di kecamatan
Mandiangin Koto Selayan menentukan pilihan pada 9 April 2014 nanti kepada
Muhammad Ridha, melainkan sebuah kesempatan, agar kita tidak terjebak pada
pilihan yang salah lalu kita akan menanggung beban selama 5 tahun kedepan.










0 komentar:
Posting Komentar