Pages

Muhammad Ridha Center

“Jika di tangan kiri kugenggam 100 orang tua maka berguncanglah Jaya Wijaya, jika di tangan kanan kugenggam 10 pemuda maka berguncanglah dunia.” Ungkapan Bung Karno,

Muhammad Ridha Center

“Jika di tangan kiri kugenggam 100 orang tua maka berguncanglah Jaya Wijaya, jika di tangan kanan kugenggam 10 pemuda maka berguncanglah dunia.” Ungkapan Bung Karno,

Muhammad Ridha Center

“Jika di tangan kiri kugenggam 100 orang tua maka berguncanglah Jaya Wijaya, jika di tangan kanan kugenggam 10 pemuda maka berguncanglah dunia.” Ungkapan Bung Karno,

Muhammad Ridha Center

“Jika di tangan kiri kugenggam 100 orang tua maka berguncanglah Jaya Wijaya, jika di tangan kanan kugenggam 10 pemuda maka berguncanglah dunia.” Ungkapan Bung Karno,

Muhammad Ridha Center

“Jika di tangan kiri kugenggam 100 orang tua maka berguncanglah Jaya Wijaya, jika di tangan kanan kugenggam 10 pemuda maka berguncanglah dunia.” Ungkapan Bung Karno,

Selasa, 11 Maret 2014

“Buku” disamping “Bantal”


Muhammad Ridha, wakil rakyat termuda dalam sejarah Kota Bukittinggi,- Ditakdirkan lahir pada keluarga yang aktif di bidang politik. Pada usia 26 tahun, Muhammad Ridha di lantik menjadi anggota DPRD Kota Bukittinggi periode 2009-2014, dan menjadi satu-satu nya anggota dewan “termuda” dalam sejarah Kota Bukittinggi. Tidak mudah memang, menjadi wakil rakyat di usia muda tentu tak semudah yang dikira. Ada yang selalu memandang remeh namun banyak yang mendorong maju.  Namun bagi Muhammad Ridha, hal itu merupakan sebuah tantangan yang harus di lalui oleh seorang politisi.

Sang Ayah, H. Zainal Djis Dt. Sati SH (alm), menjadi mentor utama dalam perjalanan politik Muhammad Ridha. Meski demikian, Muhammad Ridha tidak memaksakan diri untuk menggandeng popularitas  Sang Ayah. Maklum, Buya Zainal adalah seorang tokoh ulama, tokoh politik, tokoh adat dan tokoh masyarakat. Bahkan hingga saat ini, masih ada yang tidak mengetahui bahwa Muhammad Ridha adalah anak dari Buya Zainal.  Jutru hal ini lah yang menjadikan Muhammad Ridha lebih unik dari politisi lain

Anak muda yang tinggal di Simpang Mandiangin, Mandiangin Koto Selayan Bukittinggi itu, aktif berkiprah di bidang politik praktis sejak tahun 2006. Memulai karir politiknya di Barisan Muda Partai Amanat Nasional (BM PAN) Bukittinggi. Dengan memangku jabatan Ketua Umum, Muhammad Ridha menjadi bagian utama  perjuangan partai. PAN yang pada waktu itu di huni oleh banyak politisi muda, tentu memberikan suasana persaingan yang sedikit panas.

Sebagai anggota dewan termuda M Ridha pernah diundang ketika pertemuan politisi pemuda parlemen se Indonesia 3-4 Nov 2010 lalu di Jakarta dan juga dihadiri oleh presiden Republik Indonesia. Pengalaman paling berharga dan sebuah kebanggaan itu, terus menjadi motivasinya untuk terus berkarir.

Diluar aktivitasnya sebagai politisi, Muhammad Ridha aktif di berbagai organisasi sosial dan masyarakat. Saat ini Ia menjabat sebagai Wakil Ketua di Pemuda Muhammadiyah, dan menjadi Wakil Ketua  di Persatuan Sepakola Seluruh Indonesia Bukittinggi ( PSSI ), juga Wakil Ketua di PERBASI(Persatuan Bola Basket Indonesia) Bukittinggi dan Wakil Sekretaris di PASI Bukittinggi.

Pada 17 Agustus 2013 lalu, Muhammad Ridha yang juga sebagai Ketua PURNA PASKIBRAKA INDONESIA (PPI) Bukittinggi, berhasil mengirim siswa SMU Bukittinggi untuk mejadi utusan ke Istana Negara sebagai pengibar bendera Negara dan sukses menjebolkan salah seorang anggotanya pada Bimtek Protokoler Istana Negara. Dan sekaligus utusan dari Bukittinggi tesebut menjadi satu-satunya perwakilan dari Sumatera Barat.  Hal ini tentu sangat mengejutkan,  mengingat sudah 10 tahun Bukittinggi belum pernah mengirimkan utusan ke Istana Negara untuk menjadi Pasukan Pengibar Bendera. Khusus Bimtek Protokoler Istana Negara, merupakan sebuah prestasi yang tidak mudah diraih selain menjadi pengibar bendera di Istana Negara.

Antara Buku dan bantal
            Terlepas dari kehidupan politik dan kehidupan muda dari seorang Muhammad Ridha, terdapat sebuah titik positif yang membuatnya berbeda dari politisi lain.  Muhammad Ridha selalu di temani sebuah “buku” sebelum tidur.  Kebiasan membaca ini sudah menjadi ciri khas keluarga Buya Zainal (alm). Siapa saja yang pernah menghampiri kediaman Muhammad Ridha, pasti akan menemukan ribuan buku peninggalan “Buya Zainal”. 
            Lapar akan  ilmu pengetahuan akan membuat seorang manusia lebih maju dari hari ke hari. Dan ilmu pengetahuan itu tidak akan  didapat “tanpa membaca”. Bahkan Einsten yang di anggap orang paling cerdas didunia, di keluarkan dari sekolah karena “terlalu rajin membaca”. Filosofi ini melekat dalam diri Muhammad Ridha, karena membaca itu membantunya untuk lebih berkualitas sebagai wakil rakyat. Bahkan, sambil bercanda  Muhammad Ridha pernah mengatakan  “sangat  berbahaya jika penjahat  suka membaca”.
            
Sebenarnya, membaca adalah kebutuhan wajib para politisi. Dari cara berbicara saja, para politisi itu bisa di ukur mana yang berkualitas dan mana yang tidak berkualitas. Dan beruntunglah mereka (politisi) yang gemar membaca, setiap perkataan akan memberikan gambaran tajam bagi orang yang mendengar, memberikan inspirasi dan solusi terhadap suatu masalah. Nah, bayangkan jika calon wakil rakyat tidak bisa bicara? Lalu suara apa yang akan disampaikannya di gedung parlemen? Bukankah wakil rakyat adalah penyalur suara rakyat?

Muhammad Ridha meyakini arti penting politisi muda seperti dirinya. Keberadaan politisi muda dalam system politik merupakan wajah masa depan Kota Bukittinggi, mustahil jika masa depan Kota Bukittinggi sepenuhnya hanya diserahkan pada golongan tua, politisi muda adalah “tunas politik” perbaikan masa depan Kota kearah yang lebih baik. “Keberadaan politisi muda, di satu sisi di pandang sebagai sebuah tantangan. Namun di sisi lain sekaligus diakui sebagai sebuah potensi untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa depan,” terangnya.

            “Bertarung Untuk Menang”
Salah satu media local pernah menanyakan kepada Muhammad Ridha, “jika anda kalah dalam pemilu Legislatif 2014 ini, apa rencana anda selanjutnya?”, sebuah pertanyaan tajam tersebut dijawab dengan tegas oleh Muhammad Ridha, “tidak ada scenario kalah, yang ada saya tidak dapat kursi di DPRD Kota Bukittinggi, saya masih tetap berusaha menang diluar sebagai anggota DPRD, masih banyak saluran lain untuk saya berbuat bagi masyarakat Kota Bukittinggi”.
Pada pemilu legislative tahun 2014 ini, Muhammad Ridha kembali bertarung mendapatkan kursi di DPRD Kota Bukittinggi. Niat ini tidak lebih untuk tetap mempertahankan keberadaan “tunas politik” bagi masa depan Kota Bukittinggi. Tidak hanya sekedar mendapatkan kursi, tapi mampu memberikan pandangan-pandangan inovatif bagi perkembangan Kota Bukittinggi, tidak hanya sekedar berkata “iya, setuju, tidak, tolak”.

Maka bukanlah suatu kesalahan jika kita masyarakat Kota Bukittinggi khususnya yang berdomisili di kecamatan Mandiangin Koto Selayan menentukan pilihan pada 9 April 2014 nanti kepada Muhammad Ridha, melainkan sebuah kesempatan, agar kita tidak terjebak pada pilihan yang salah lalu kita akan menanggung beban selama 5 tahun kedepan.


Senin, 29 April 2013

Di pemilu tahun 2009,Mayoritas yg GOLPUT adalah anak-anak MUDA...!!

GOLPUT itu HARAM kata MUI...!!

Di pemilu tahun 2009,Mayoritas yg GOLPUT adalah anak-anak MUDA...!!

Setiap menjelang PEMILU kata GOLPUT sering diungkapkan oleh ANAK MUDA yang merasa tidak PUAS terhadap hasil-hasil yang diberikan oleh PEMIMPIN khususnya dalam hal pemilihan UMUM.

"Biasanya kan anak muda itu banyakan golongan putih (golput). Mereka ga peduli dengan pemilu, makanya dengan pemilu tahun ini hatta rajasa banyak mensuport anak muda,salah satunya dengan bantuan dana-dana untuk para pengusaha muda.

dan hatta rajasa banyak mengapresiasi seluruh anak-anak Alay di indonesia...

kalau sekarang anak muda mau golput? Gak Jaman Kaleee!
karena seluruh anak-anak muda menurut laporan hasil survei,banyak yg ingin berkiblat pada Partai amanat Nasional....

"hatta rajasa menularkan kepada mereka bahwa politik itu juga gaul, dan mengajak anak muda ikut terlibat. Karena nilai tertinggi dari pilihan itu ya anak muda...

anak muda adalah generasi penerus suatu bangsa,anak muda adalah generasi EMAS bangsa ini...

banyak anak muda yg masih punya kepedulian, merasa punya kewajiban sebagai warga negara Indonesia, dan kamu pun ikutan nyoblos karena kamu menaruh harapan
pada partai pilihan kamu yg menjanjikan bakal membawa bangsa ini
menuju kebaikan.

"Pemuda pemudi yg cerdas tidak golput ,jadi harus ikut memilih dan untuk menentukan nasib INDONESIA,"

Tengoklah para pejuang kemerdekaan negeri ini, mereka benar-benar bertempur melawan penjajah dengan senjata yang serba minim. Mereka tidak ingin hidup dalam masa penjajahan berlama-lama, oleh karena itu mereka memperjuangkan kemerdekaan. Bila kita mengibaratkan para politisi culas yang menguasai negeri ini sebagai penjajah tentu jalan untuk menjadi golput bukanlah pilihan ksatria. Kita harus merebut kursi-kursi mereka dengan menggantinya dengan orang-orang yang benar-benar AMANAT, sanggupkah?


Sumber : 
Bm Pan Kota Surabaya

Kamis, 25 April 2013

M. Ridha Terpilih Menjadi Ketua PPI Kota Bukittinggi

Musyawarah daerah (Musda) V Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Bukittinggi, telah selesai dilaksanakan. Acara yang diselenggarakan dalam dua segmen ini, membahas perumusan AD/ART organisasi dan pembentukan pengurus baru.

Untuk pemilihan PPI Kota Bukittinggi tahun ini, terdapat tiga kandidat yang dicalonkan yaitu Rizki Akbar, Yovaldri Riki Putra, dan M. Ridha. Sebelum pelaksanaan voting, Yovaldri mengundurkan diri sebagai kandidat karena tidak berdomisili di Bukittinggi. Sehingga yang terpilih sebagai ketua PPI Bukittinggi untuk periode 2013-2017 adalah M. Ridha.

Untuk ke depannya, PPI akan bermitra dengan pemerintah melalui dinas terkait, yaitu dinas pendidikan pemuda dan olahraga, serta KNPI untuk membantu program-program pemerintah di bidang kepemudaan.

"PPI adalah organisasi yang khas, dimana setiap tahun keanggotaannya bertambah. Paradigma selama ini, bahwa paskibra hanyalah sekelompok organisasi yang hanya menaikkan dan menurunkan bendera. Padahal banyak potensi di sini untuk dikembangkan. Ini menjadi tantangan yang indah bagi saya", ungkap M. Ridha yang sekaligus sekretaris komisi C DPRD Bukittinggi.


Sumber : http://padang-today.com

Daftar Calon Anggota Legislatif Sementara DPD PAN Kota Bukittinggi Dapil 1 MKS

Daftar Calon Anggota Legislatif Sementara DPD PAN Kota Bukittinggi Daerah Pemilihan Bukittinggi 1 - Mandiangin Koto Selayan

Klik gambar untuk memperbesar

Sumber gambar : Rumah Pan Bukiktinggi

Daftar Anggota Legislatif Sementara DPD PAN Kota Bukittinggi


Daftar Calon Anggota Legislatif Sementara DPD PAN Kota Bukittinggi Dapil 1 MKS

Sumber gambar : Rumah Pan Bukiktinggi

Rabu, 16 Januari 2013

Bung Hatta : Pemuda Indonesia dan Politik

“Sejak dari usia kecil, Pemuda Indonesia membawa sepotong pengalaman kolonial yang dipikulnya sepanjang hidupnya. Hanya mereka yang memikirkan masa depannya sendiri, kebahagiaannya sendiri, dan bersedia semua cita-cita sajalah yang mau melupakan semua itu, dan demikian memupuk moral-budak dalam diri mereka”

Ucapan ini di sampaikan Bung Hatta dalam pembelaannya, di pengadilan Den Haag (9 Maret 1928). Ucapan ini merupakan penggambaran beliau terhadap semangatnya pemuda indonesia yang ingin melepaskan diri dari kungkungan penjajah, sejak dari usia kecil pemuda indonesia sudah terbiasa dengan iklim politik, berpikir dan berjuang semata-mata untik Indonesia merdeka, melepaskan cita-cita pribadi demi kepentingan kemerdekaan indonesia.
Tentunya pandangan Bung Hatta yang saya 
maksudkan bukanlah pandangan umum pemuda indonesia secara keseluruhan. Pada masa itu Pemuda Indonesia mengenal politik sudah dari remaja, jadi sangat wajar jika para pemimpin dimasa itu masih muda-muda. Loyalitas dan kebersamaan dalam perjuangan sangatlah kuat, ini semua karena kesamaan visi untuk tujuan indonesia merdeka.

Pemuda Indonesia dan Politik

Dalam pandangan Bung Hatta, Pemuda Indonesia berpolitik lebih awal dibandingkan pemuda dibarat, saat itu padahal pola berpikir seperti itu dianggap sebagai pengaruh Barat, sementara hal seperti itu di barat sendiri  dianggap sebagi sesuatu yang tidak nomal, seperti yang dikatakan Bung Hatta:

“Di Barat, pemuda-pemudi intlektuil pada universitas-universitas memepersiapkan diri untuk kegiatan dibidang politik dan kemasyarakatan dikemudian hari.” dikemudian hari disini maksudnya setelah mereka menyelesaikan studi mereka. kalau pemuda Indonesia lebih awal terjun kepolitik dikarenakan situasi dan kondisi yang sangat memaksa. “Sedangkan di Indonesia,kegiatan itu sudah dimulai tatkala pemuda-pemudanya masih duduk dibangku sekolah. Organisasi-organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen bond, Jong Minahas, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Indonesia Muda dan lain-lain, semua organisasi itu lahir dari  ruangan kelas sekolah-sekolah menengah”. Demikian yang dikatakan Bung Hatta lagi.

Itulah selemumit pandangan Bung Hatta tentang Pemuda Indonesia di masa lalu, bagaimana sikap pemuda terhadap kolonial, sehingga situasi dan kondisi saat itu justeru membuat Pemuda Indonesia cepat dewasa mengahadapi keadaan, dan mampu berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia. Jadi wajar saja kalau Soekarno masih mudapun sudah matang berpikir, dan senantiasa berpikir untuk kemerdekaan Indonesia. Dengan kondisi sekarang ini Pemuda Indonesa berjuang sesuai dengan kondisi politik terkini.

Semoga saja perjuangan pemuda dimasa lalu bisa memberikan inspirasi bagi perjuangan Pemuda Indonesia dimasa sekarang.

Sumber tulisan diambil dari buku, Mahakarya Soekarno-Hatta, terbitan Vision 3
http://ajinatha.blogspot.com

Dinamika Politik Menguat Ditahun 2013


Masyarakat Dituntut Lebih Selektif dan Cerdas Menanggapi Semua Isu

Tahun 2013 yang dibicarakan banyak sejumlah kalangan elit politik akan menjadi tahunnya politik dan pengukatan dinamika politik tak hanya isu santer di Ibukota saja, namun hal tersebut dirasakan sejumlah politisi sumbar, sebut salah satunya M. Ridha, Sekretaris Komisi C - DPRD Bukittinggi. M. Ridha mengatakan bahwa ditahun 2013 ini merupakan tahun yang penuh dengan warna politik baru serta penguatan  dinamika politik, namun tak hanya dinamika politik yang kemudian akan muncul dan menguat, di tahun ini juga diprediksi dunia politik Indonesia juga akan rentan dengan keributan kecil dengan isu politik yang saling tidak berirama dan mencari eksistensi masing-masing.
Melihat fenomena politik yang kian hari kian berkembanng, dalam hal ini masyarakat sebagai objek diharapkan mampu untuk melakukan filterisasi agar tidak terjebak dengan isu politik dan janji-janji politik semata, pencerdasan-pencerdasan politik perlu diterapkan agar nantinya didapatkan seorang wakil rakyat yang kemudian akan mampu menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat, apalagi dalam waktu dekat ini akan dilaksanakan Pemilihan Umum Calon Legislatif (Pilcaleg). Verifikasi Pemilu baik dari DPR-RI hingga DPR tingkat II akan dilakukan pada awal bulan April tahun ini sesuai dengan Peraturan KPU no 12 tahun 2012. Serta dimulai pada tanggal 11 Januari ini setiap pihak yang berkepentingan dengan Pilcaleg juga telah diizinkan melakukan sosialisasi, tatap muka dan pemasangan baliho secara terbatas, maka dari itu masyarakat dihimbau agar lebih cerdas dan selektif dalam menanggapi berbagai isu politik termasuk janji manis yang sering kita dengar.
"Ditahun 2013 yang banyak dikatakan sebagai tahunnya politik indonesia, masyarakat dituntut agar lebih selektif dan cerdas dalam menanggapi semua isu yang ada," tegas, M. Ridha, Senin (14/1).
Lebih lanjut M. Ridha walau akan banyak terjadi gesekan dan keributan kecil seputar terutama mendekati Pilcaleg itu merupakan hal yang biasa dalam dunia perpolitikan, secara otomatis kian hari dinamika yang berkembang akan selalu berubah kearah yang lebih baik, sudah kewajiban kita bersama untuk mengamati dan memberikan kontribusi nyata dalam perkembangan politik Indonesia saat ini. 

[ Red/Retik Salfira]-Selengkapnya di PadangEkspres,Posmetro padang, Rakyat Sumbar